Kisah Inspiratif Zaid bin Tsabit Sang Pencatat Wahyu

Kisah Inspiratif Zaid bin Tsabit Sang Pencatat Wahyu

Zaid bin Tsabit dikenal sebagai seorang sahabat sekaligus pencatat wahyu di masa Rasulullah hingga masa Khulafaur Rasyidin. Bahkan, hingga saat ini, Zaid dikenal sebagai salah seorang sahabat yang memiliki peran penting dalam pengumpulan dan penulisan naskah Al-Qur’an. Karena keilmuan dan peranannya dalam penulisan Al-Qur’an, Zaid bin Tsabit diberi gelar Jami’ Al-Qur’an al-Karim, yaitu orang yang menghimpun Al-Qur’an.

Nama lengkapnya ialah Zaid bin Tsabit bin Dhahhak Al-Anshari Al-Khazraji. Selain mencatat wahyu, sahabat keturunan Bani Khazraj ini juga dipercaya Rasulullah SAW. sebagai sekretaris yang menuliskan surat-surat beliau. Semenjak Rasulullah hijrah dan menetap di Madinah, Tsabit tinggal bersama beliau.

Saat Zaid diminta Abu Bakar untuk menghimpun dan menuliskan kitab suci, dia merasa beban dan amanah  itu teramat berat untuknya. Sehingga ia mengatakan ”Demi Allah, seandainya mereka memberiku tugas untuk memindahkan Gunung Uhud dari posisinya, tugas itu masih lebih ringan bagiku dibandingkan tugas yang mereka pikulkan ke pundakku untuk mengumpulkan Al-Qur’an.”

Namun, dengan rahmat Allah, Zaid berhasil merealisasikan misi suci tersebut dan mampu menjalankan tugasnya dengan baik hingga kita pun saat ini dapat menikmati bacaan Al-Qur’an lengkap 30 juz.

Zaid bin Tsabit adalah seorang sahabat sejati yang menjadi pemuka ulama di Madinah dalam bidang fikih, fatwa, dan faraid waris. Bahkan, Khalifah Umar pernah menugaskan Zaid untuk menjadi penggantinya bila ia sedang melakukan kunjungan ke luar Madinah.

Di masa remajanya, Zaid sudah dilihat Rasulullah sebagai anak muda multi talenta. Kemampuan bicaranya, daya ingatnya, dan kekuatan hafalannya membuatnya jadi sekretaris Rasulullah di usia belasan tahun. Sahabat senior juga mengakui kecerdasannya.

Di antara hal-hal yang membuat Zaid cemerlang adalah kejeniusannya dalam mempelajari bahasa kaum lain dalam waktu yang singkat. Rasulullah mulai mengetahuinya sejak suatu kali Zaid diajak bertemu beliau dan men-tasmi’ beberapa surat Al-Qur’an. Rasulullah nampak senang dan takjub, kemudian memerintahkan Zaid untuk mempelajari bahasa Yahudi.

Dengan menakjubkan, hanya 15 hari saja Zaid sudah mampu memahami bahasa kitab Yahudi. Sejak itulah ia selalu jadi sekretaris Rasulullah dalam urusan diplomasi dengan orang-orang Yahudi di Madinah. Sejak itu pula, banyak wahyu yang turun dan Rasulullah memanggil Zaid untuk menuliskannya.

Di hari-hari kekhalifahan Umar bin Khattab, Zaid seringkali diangkat jadi pemimpin Madinah jika Umar sedang berhaji ke Makkah. Beliau pula dideklarasikan menjadi satu dari 6 ahli fatwa dari kalangan sahabat. Beliau yang paling muda di antara mereka.

 

Selain kecerdasannya di ilmu Al-Qur’an dan bahasa, Zaid juga menjadi ahlinya ilmu waris.  Namun yang paling fenomenal dari prestasi Zaid bin Tsabit adalah momentum ketika beliau diangkat oleh Abu Bakar Ash-Shiddiq sebagai ketua panitia pengumpulan Al-Qur’an. Semua sahabat setuju ketika nama Zaid disebut, kemudian mereka berkata, “Wahai Zaid, engkau adalah anak muda yang cerdas dan kami tak meragukanmu. Engkaulah penulis wahyu Rasulullah, maka cari dan kumpulkanlah semua tentang Al-Qur’an.”

Pura-Pura Berbuka Puasa Ketika Ada Tamu

Suatu ketika, pada saat bulan Ramadhan datanglah seorang musafir ke rumah Zaid bin Tsabit. Tamu tersebut sama sekali tidak memiliki persediaan bekal untuk berbuka puasa. Pada saat itu, kondisi ekonomi Zaid bin Tsabit pun sedang tidak baik, namun ia mengingat pesan Rasulullah SAW tentang kesunnahan memuliakan tamu.

Zaidpun kemudian bertanya kepada istrinya, “Apakah kita memiliki makanan untuk petang ini?” Sang istri menjawab, “Demi Allah wahai suamiku, kita hanya memiliki makanan sedikit.” Sang istri pun kebingungan. Kemudian, Zaid berpikir dan menemukan strategi untuk menghadapi masalah tersebut. Ia meminta istrinya untuk mematikan lampu saat waktu berbuka tiba.

Saat adzan magrib berkumandang dan waktu buka tiba, dalam kondisi gelap, Zaid bersama istrinya menghidangkan makanan kepada musafir tadi. Namun, dikarenakan makanan yang ada  tersebut hanya cukup untuk sang musafir, Zaid bin Tsabit beserta istrinya hanya berkecap-kecap seolah-olah mereka juga sedang berbuka. Padahal, mereka sama sekali tidak memakan apapun.

Esok harinya, sang musafir pun melanjutkan perjalanan. Dan seperti biasanya, Zaid datang ke majelis Rasulullah.. Di majelispun ia bertemu dengan rasulullah saw., kemudian rasulullah berkata kepadanya, “Wahai Tsabit, Allah SWT menghargai pelayananmu terhadap tamumu semalam.” Mendengar ungkapan rasulullah  tersebut, Zaid bin Tsabit pun kaget. Bahagia sekaligus malu bercampur jadi satu.

Zaid wafat di era kekhalifahan Muawiyah bin Abi Sufyan. Orang-orang sangat kehilangannya, apalagi para pecinta ilmu dan penggali hikmah. Ulama sekaliber Ibnu Abbas saja sampai berkata di hari dimakamkannya Zaid, “hari ini, telah dimakamkan ilmu yang banyak.” dan Saat itu pula abu-hurairah mengungkapkan duka citanya. Hari ini telah berpulang seorang ulama sekaligus tinta umat hubar al-Ummah.

Betapa menariknya kisah dari Zaid bin Tsabit diatas, beliau selain memiliki keluasan ilmu yang ada dalam dirinya, ia juga sangat menghormati dan memuliakan tamu. Bahkan ketika ia sama sekali tidak memiliki persediaan makanan kecuali hanya sedikit, ia bersama istrinya rela berpura-pura berbuka puasa hanya untuk menjalankan sunnah rasulullah saw. yaitu memuliakan tamu.

Betapa mulianya sikap Zaid ia lebih mengedepankan kepentingan orang lain dibanding kepentingan dirinya sendiri, meskipun ia sadar bahwa dirinya juga sangat memerlukannya. Hal itu terjadi tidak lain karena kecintaannya terhadap Allah dan Rasulnya.