You are currently viewing Pengertian Anak Yatim dan Keistimewaannya dalam Islam

Pengertian Anak Yatim dan Keistimewaannya dalam Islam

Ketahui lebih lengkap pengertian anak yatim, batasan umurnya, Hadits tentang anak yatim, serta keistimewaannya dalam Islam.


Rahmatanlilalamin.or.id – Anak yatim adalah anak yang ditinggalkan meninggal oleh sang ayah saat masih anak-anak. Islam menganjurkan umatnya untuk senantiasa menyantuni anak yatim dan memuliakannya dengan cara memperlakukannya dengan baik.

Rasulullah SAW dalam sebuah hadits menjamin surga bagi siapa saja yang menanggung hidup anak-anak tersebut. Bahkan, Rasulullah SAW juga mengatakan bahwa orang-orang tersebut yakni orang yang menanggung kebutuhan anak yatim dengan ikhlas akan berada dekat dengannya di surga kelak.

Pengertian Anak Yatim

Secara bahasa, kata yatim merupakan sebuah kata serapan yang berasal dari Bahasa Arab yakni yutma-yatama-yatma yang berarti kesendirian (infirad). Selanjutnya, kata yatim merupakan bentuk isim fa’il (menunjukan pelaka), secara jamak disebut yatama atau aitam.

Dalam bahasa Arab, setiap kata yang sendiri dalam Bahasa Arab disebut dengan yatim. Hal ini juga termasuk dalam makna kata al-yatimah yang memiliki arti janda yang hidup sendiri (Muhammad Abu Manshur al-Harawi w. 370 H, Tahdzib al-Lughat, h. 14/ 242, lihat pula: Ibnu Faris ar-Razi w. 395 H, Mujmal al-Lughat, h. 1/ 941).

Selanjutnya, dalam memaknai kata yatim, Ibnu Sikkith berkata: “Kata ‘yatim’ untuk manusia, karena ayahnya meninggal, sedangkan untuk binatang, kata ‘yatim’ digunakan untuk menyebut binatang yang kehilangan ibunya. Manusia yang kehilangan ibunya tidak bisa disebut yatim.” (Lisanul ‘Arab, 12:645).

Secara istilah, dalam Al-Mausu’ah Al-Fiqhiyaj Al-Kuwaitiyah (45:254)mendefenisikan yatim sebagai anak yang ditinggal mati bapaknya ketika dia belum baligh. Berdasarkan hadits: “Tidak ada status yatim setelah mimpi basah.”

Berdasarkan beberapa definisi diatas, anak yatim ialah seorang anak di bawah umur yang kehilangan ayahnya sebagai orang yang bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhannya, baik biaya sehari-hari ataupun pendidikan sebelum mencapai usia baligh dan dewasa.

Baca Juga: 7 Keutamaan Menyantuni Anak Yatim yang Wajib Kamu Ketahui

Perbedaan Anak Yatim dan Piatu

Anak yatim dan piatu memiliki pengertian yang berbeda. Anak yatim adalah seorang anak dalam usia belum baligh telah ditinggal wafat oleh ayahnya. Kemudian, piatu adalah seorang anak yang belum baligh telah ditinggal oleh ibunya.

Adapun anak yang meninggal ayah dan ibunya kita kenal dengan sebutan yatim piatu. Dalam santunan anak yatim, anak yatim piatu lebih diutamakan daripada anak yatim. Hal ini dikarenakan anak yatim piatu bisa jadi lebih memerlukan santunan tersebut dubandingkan dengan anak yatim.

Selain itu, anak yatim piatu juga bisa jadi ia tak hanya mengalami kondisi kekurangan secara materi. Tapi, mereka juga kurang mendapatkan rasa kasih sayang dari kedua orang tuanya karena telah meninggal sehingga lebih diutamakan untuk mendapat perhatian.

Pengertian Anak Yatim

Berapakah Batasan Usia Anak Yatim?

Untuk menentukan seorang anak dapat disebut anak yatim kita dapat membatasinya dengan kriteria. Pertama, seorang anak tinggal wafat oleh ayah kandungnya. Hal ini sesuai dengan pengertian yatim yang diungkapkan oleh Ali bin Muhammad al-Jurjani dalam kitab At-Ta’rifat yang mengatakan bahwa yatim artinya seseorang yang bapaknya wafat karena nafkahnya wajib ditanggung bapaknya, bukan ibunya.

Kedua, belum baligh. Artinya setelah seorang anak telah baligh maka tidak disebut sebagai anak yatim sebagaimana sabda Nabi SAW berikut.

لاَ يُتْمَ بَعْدَ احْتِلاَمٍ

“Tidak ada keyatiman setelah mimpi.” (HR Abu Daud)

Yang dimaksud mimpi dalam penggalan hadits diatas ialah penanda baligh. Adapun dalam menentukan seorang telah mencapai usia baligh atau belum, kita dapat menjadikan empat faktor berikut ini sebagai pertimbangan.

– Anak laki-laki yang telah mengeluarkan air mani dan telah mengalami haid untuk perempuan.

– Untuk menentukan apakah seorang anak sudah mencapai usia baligh atau tidak, juga dapat diketahui dari pertumbuhan bulu di sekita beberapa area tubuh, baik pada anak laki-laki maupun anak perempuan.

–  Batas usia minimal anak laki-laki dan anak perempuan yang telah memasuki usia baligh masing-masing yaitu 15 tahun untuk laki-laki dan 9 tahun untuk perempuan.

Baca Juga: Sedekah untuk Anak Yatim, Sebuah Cara Memuliakan Anak Yatim

Bagaimana Hukum Menyantuni Yatim yang Sudah Baligh?

Mengutip dari Rumah Fiqih Indonesia, seorang Muslim dibolehkan untuk membantu anak yatim yang telah baligh (dewasa), akan tetapi statusnya bukan santunan lagi. Misalkan atas nama sumbangan anak-anak dari keluarga tak mampu.

Karena yatim dan tak mampu ini tidak saling berkaitan. Sebab, ada juga seorang anak yatim yang hartanya banyak dan ada juga seorang itu tak mampu padahal ayah dan ibunya masih ada.

Namun demikian, santunan kepada anak yatim dan pasca yatim (anak yatim yang telah baligh) tetap mendapatkan pahala yang besar.

Perlu kita pahami, anak yatim juga memiliki hak-hak dalam hidupnya. Hak anak yatim ialah semua yang berhak didapat oleh anak yang kedua orang tuanya masih lengkap. Karena ayahnya telah tiada, maka anak yatim tidak mendapatkan hak-hak tersebut. Sebab itu, seorang muslim yang berada di sekelilingnya hendaklah menyayangi dan membantu semua kebutuhannya.

Pengertian Anak Yatim

Hadits Tentang Menyantuni Anak Yatim

Berikut adalah beberapa hadits tentang menyantuni dan menyayangi anak yatim.

1. Hadits Tentang Keutamaan Rumah yang Ditinggali Anak Yatim

خَيْرُ بَيْتٍ فِى اْلمُسْلِمِيْنَ  بَيْتٌ فِيْهِ يَتِيْمٌ يُحْسَنُ اِلَيْهِ وَشَرُّ بَيْتٍ فِى اْلمُسْلِمِيْنَ بَيْتٌ فِيْهِ يَتِيْمٌ يُسَاءُ اِلَيْهِ

Artinya, “Sebaik-baik rumah orang Islam adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim dan diasuh dengan baik. Seburuk-buruk rumah orang islam adalah rumah yang di dalamnya ada anak yatim yang diperlakukan dengan jahat.” (HR. Ibnu Majah dari Abu Hurairah).

2. Hadits Tentang Balasan Orang yang Mengurusi Anak Yatim

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : اَنَاوَكَافِلُ الْيَتِيْمِ فِى الْجَنَّةِ هَكَذَا وَأَشَارَبِالسَّبَّابَةِ وَالْوُسْطَى وَفَرَّجَ بَيْنَهُمَا

Artinya: “Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku dan orang yang memelihara anak yatim itu akan masuk surga seperti ini,”. Nabi memberi isyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah dan merenggang keduanya.” (HR. Bukhari).

3. Hadits Tentang Pahala Surga Bagi yang Mengurusi Anak Yatim

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ  : مَنْ قَبَضَ يَتِيْمًامِنْ بَيْنِ مُسْلِمِيْنَ إِلَى طَعَامِهِ وَشَرَابِهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ الْبَتَّةَ اِلَّا أَنْ يَعْمَلَ ذَنْبًالَايُغْفَرُ.

Artinya: “Rasulullah ﷺ bersabda: Barangsiapa menjaga anak yatim di antara umat Islam sampai menjaga makannya, dan minumnya, maka Allah pasti bakal memasukan orang itu ke dalam surga. Kecuali orang itu berbuat dosa yang tidak bakal diampuni.” (HR Tirmudzi).

4. Hadits Tentang Balasan Orang yang Mengurusi Yatim: Terhindar dari Azab Allah di Hari Kiamat

قَالَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَالَّذِىْ بَعَثَنِى بِالْحَقِّ لَا يُعَذِّبُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مَنْ رَحِمَ الْيَتِيْمَ وَاَلَانَ لَهُ فِى الْكَلَامِ وَرَحِمَ يُتْمَهُ وَضُعْفَهُ وَلَمْ يَتَطَاوَلْ عَلَى جَارِهِ بِفَضْلِ مَااَتَاهُ اللَّهُ

Artinya: “Rasulullah ﷺ bersabda: Demi Allah yang telah mengutusku dengan haq. Allah tidak akan mengazab pada hari kiamat orang yang mengasihi anak yatim, dan lemah lembut pada anak yatim dalam bicaranya, dan mengasihi orang itu pada kemalangan dan kesusahan yatim itu, dan ia tidak sombong terhadap tetangganya karena sebab kelebihan yang diberikan Allah padanya.” (HR. Thabrani).

Baca Juga: Ayat Al-Quran Tentang Menyantuni Anak Yatim

Keistimewaan Anak Yatim dalam Islam

Anak yatim memiliki kedudukan yang mulia dalam Islam. Hal itu berdasarkan firman-firman-Nya dalam Al-Quran. Berkaitan dengan anak yatim, Allah SWT menyerukan kepada hamba-Nya untuk senantiasa memperhatikan anak yatim dengan sebaik-baiknya.

Dalam Al-Quran, kata yatim disebutkan sebanyak 23 kali, dalam bentuk tunggal sembilan kali dan dalam bentuk jamak/plural sebanyak 13 kali.

Salah satu anjuran yang terdapat dalam Al-Quran ialah tentang memelihara, memperhatikan, dan mengasihi anak yatim. Allah SWT berfirman:

“Mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakanlah “Memperbaiki keadaan mereka adalah baik,” (QS. Al-Baqarah [2]: 220).

Dalam ayat diatas dikatakan secara tegas bahwa memperbaiki hidup anak yatim termasuk amal shaleh yang memiliki banyak kemuliaan. Adapun hak anak yatim yang perlu kita penuhi dalam rangka memuliakannya antara lain:

1. Mendapatkan perlakuan baik.

2. Mendapatkan kecukupan makan dan kebutuhan sehari-hari.

3. Mendapatkan perlindungan.

4. Mendapatkan pendidikan.

5. Hak atas harta yang dimilikinya.

Referensi

https://zakat.or.id/apa-itu-yatim/#Arti_Yatim

https://almanhaj.or.id/7452-apa-definisi-anak-yatim.html

https://rumahfiqih.com/y.php?id=381

https://www.republika.co.id/berita/r1oc1d430/keutamaan-menyantuni-dan-membahagiakan-anak-yatim

https://akurat.co/hadis-hadis-keutamaan-menyayangi-anak-yatim

Leave a Reply