Sejarah Singkat Peringatan Maulid Nabi Muhammad

Sejarah Singkat Peringatan Maulid Nabi Muhammad

Maulid Nabi bukanlah merupakan istilah asing bagi setiap muslim yang berada di berbagai belahan dunia. Secara etimologi, istilah maulid berasal dari bahasa Arab yakni Walada Yulidu Wiladan yang berarti kelihatan. Kata ini biasanya disandingkan atau dikaitkan dengan peringatan hari kelahiran Nabi saw.

Kamis (29/10) atau bertepatan pada tanggal 12 Rabiul Awal 1442 H., sebagian umat islam merayakan peringatan maulid nabi dengan berbagai kegiatan didalamnya. Bahkan, di Indonesia sendiri sudah sejak lama di Indonesia Maulid Nabi menjadi hari libur nasional.

Peringatan hari kelahiran Nabi Muhammad saw atau biasa disebut maulid nabi ini telah menjadi semacam budaya atau tradisi bagi setiap muslim diberbagai penjuru dunia, tak terkeceuali Indonesia. Peringatan Maulid Nabi pada 12 rabiul awal menjadi momen untuk membangkitkan dan menjaga semangat Nabi dalam diri umat dan direfleksikan dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam Sebuah tulisan yang berjudul Peringatan Maulid Nabi (Tinjauan Sejarah dan Tradisinya di Indonesia) Karya Much. Yunus menyebutkan bahwa menurut sejarah peringatan maulid nabi pertama kali diadakan oleh khlaifah Mu’iz li Dinillah, salah seorang khalifah dinasti Fathimiyyah di mesir yang hidup pada tahun 341 Hijriah. Kemudian, perayaan Maulid dilarang oleh AlAfdhal bin Amir al-Juyusy dan kembali marak pada masa Amir li Ahkamillah tahun 524 H.

Kemudian perayaan maulid nabi dilakukan kembali pada masa khalifah Salahuddin Al Ayyubi pada 1183 M. (579 H), atas usul saudara iparnya yaitu Muzaffaruddin. Adapun tujuan dari pelaksanaan maulid nabi saat itu ialah untuk meningkatkan semangat juang umat islam, serta mengimbangi maraknya perayaan Natal yang dilakukan oleh umat Nasrani.

Menurut Shalahuddin saat itu, semagat umat islam harus dihidupkan kembali dengan cara mempertebal kecintaan umat kepada nabi mereka. Hal itu didasari oleh  kondisi umat pada masa itu sedang mendapat serangan-serangan secara bergelombang dari berbagai bangsa Eropa (Prancis, jerman, Inggris) atau kita mengenalnya dengan perang salib dan keadaan umat islam saat itu sedang kehilangan semangat perjuangan (jihad) dan persaudaraan (ukhwah).

Setahun berikutnya, yakni bertepatan pada tahun 1184 M. /579 H., perayaan maulid nabi dilakukan dengan kegiatan yang sangat terkenal saat itu yakni dengan diadakannya sayembara penulisan riwayat Nabi saw. beserta pujian-pujian kepada beliau. Adapun yang menjadi pemenang saat itu ialah Syaikh Ja’far Al-Barzanji yang kemudian kitab karangannya dinamai dengan Kitab Barzanji. Adapun Kitab Barzanji saat ini kerap dibaca saat peringatan maulid nabi di mesjid-mesjid, pondok pesantren, majelis ta’lim dan lain sebagainya.

Gagasan Salahuddin Al-Ayyubi untuk mengadakan peringatan nabi dengan tujuan menebalkan kecintaan umat islam kepada Nabi Saw.  berhasiol menumbuhkan serta membangun semangat perjuangan umat islam kala itu. Kekuatan besar didapatkan pada saat itu sehingga pada tahun 1187 M/583 H. Yerusalem yang sebelumnya berhasil direbut oleh bangsa eropa kini direbut kemblai oleh umat islam an mesjid Al-Aqsa yang sebelumnya dirubah menjadi gereja dijadikan sebagai mesjid kembali.

Pada perjalanannya, peringatan maulid nabi masih menyisakan kontroversi atau terjadi perbedaan pendapat mengenai pelaksanaannya. Sebagian ada yang berpendapat bahwa peringatan maulid nabi merupakan perkara ytang bid’ah atau ibadah terlarang yang tidak ada tuntunannya dari zaman nabi.

Dengan alasan bid’ah juga, sebenarnya ketika Khalifah Shalahuddin Al-Ayyubi memerintahkan untuk mengadakan peringatan maulid nabi intruksi tersebut sempat ditentang oleh para ulama pada saat itu sebab peringatan semacam itu tidak pernah ada sejak zaman nabi saw.

Namun Shalahuddim Al-Ayyubi membantah dan memberikan penjelasan bahwa peringatan maulid nabi yang digagasnya hanyalah kegiatan untuk menyemarakan syiar agama, bukan perayaan yang memiliki sifat ritual atau ibadah khusus sehingga tidak dapat dikategorikan kedalam bid’ah yang terlarang.

Kendati demikian, meskipun hingga saat ini masih terjadi silang pendapat mengenai peringatan maulid nabi, menurut banyak ulama, jika dalam perayaan itu terdapat kebaikan dan menjadi washilah atau jalan untuk menjauhi dosa-dosa serta hal-hal buruk lainnya dan kemudian mendatangkan karunia yang besar, maka perayaan maulid nabi SAW dapat dipandang sebagai Bid’ah hasanah dan bagi yang mengerjakannya memperoleh pahala kebaikan.

Terlebih jika peringatan maulid nabi diisi dengan ibadah-ibadah yang telah diatur dalam Al-Quran dan Hadits.

Semoga peringatan maulid ini menjadikan lebih mengenal sosok yang menjadi suri tauladan kita yakni baginda Nabi Muhammad Saw serta menebalkan rasa cinta kita terhadap beliau. Semoga juga pada momentum peringata maulid nabi ini dapat menumbuhkan semangat persatuan dengan sesama umat muslim. Aamiin.