Menjadi Alumni Ramadhan yang Rabbani

Menjadi Alumni Ramadhan yang Rabbani

Alumni Ramadhan yang Rabbani – Lebaran merupakan momen yang selalu diisi dengan genggap gempita kebahagiaan dan kemenangan. Gema takbir dikumandangan pada malam harinya. Terkadang disertai dengan aksi pawai dan keliling menyimbolkan bahwa kemenangan telah tiba. Pagi harinya, umat islam mendirikan shalat Idul Fitri, mengenakan pakaian yang serba baru dan menyantap hidangan-hidangan yang khas dan istimewa.

Hari raya Idul Fitri tiba setelah seluruh umat islam menjalankan kewajiban puasa selama satu bulan penuh. Sepanjang bulan tersebut, umat islam telah menahan lafar, haus, syahwat serta hal-hal lain yang dapat membatalkan puasa.

Alumni Ramadhan yang Rabbani
Alumni Ramadhan yang rabbani

Pada hakikatnya puasa memiliki makna menahan, sehingga bulan Ramadhan sering disebut sebagai momen bagi umat islam untuk menahan diri dari berbagai godaan material yang bisa membuat seorang muslim lupa diri.

Ramadhan tentunya bukan hanya sekedar latihan. Ramadhan juga menjadi wahana penempaan diri sekaligus saat-saat dilimpahkannya rahmat (rahmah), ampunan (maghfirah) dan pembebasan dari api neraka (itqun minan nar). Aktivitas ibadah sunnah diganjar seperti halnya ibadah-ibadah wajib, sementara ibadah wajib membuahkan pahala yang berlipat ganda.

Adapun hasil yang seharusnya menjadi capaian seorang muslim setelah Ramadhan ialah menjadi seorang bertakwa. Sehingga tanda seorang muslim telah lulus dari latihannya selama bulan Ramadhan tak lepas dari ciri-ciri muttaqin. Selanjutnya, diantara tanda kelulusan di bulan Ramadhan ialah tak hanya memaksimalkan ibadah hanya di bulan Ramadhan saja, melainkan di bulan-bulan selanjutnya setelah Ramadhan berakhir,

Yusuf Al-Qardhawi pernah berkata “Kun Rabbanian. Walaa takun Ramadhinian” artinya jadilah seorang hamba yang Rabbani, dan jangan menjadi hamba Ramadhan yang hanya beribadah disaat bulan Ramadhan.

Semakin tinggi kualitas takwa kita, indikasi semakin tinggi pula kesuksean kita berpuasa. Demikian juga sebaliknya, semakin hilang kualitas takwa dalam diri kita, pertanda semakin gagal kita sepanjang Ramadhan. Lantas apa saja yang menjadi ciri-ciri orang yang bertaqwa? Allah SWT berfirman :

“(Yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya) pada saat sarrâ’ (senang) dan pada saat dlarrâ’ (susah), dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS Ali Imran: 134)

Alumni Ramadhan yang Rabbani
Alumni Ramadhan yang Rabbani ialah yang tetap memaksimalkan ibadah setelah bulan Ramadhan berlalu.

Ayat diatas merupakan ayat yang menjelaskan tentang tiga ciri orang bertakwa. Selengkapnya ketiga ciri tersebut akan dijelaskan sebagai berikut.

Pertama, bersedekah dalam kondisi senang maupun sulit. Orang yang bertakwa tak pernah sibuk memikirkan dirinya sendiri. Ia mesti berjiwa sosial, empati terhadap sesma serta rela berkorban untuk orang lain dalam berbagai keadaan. Ia juga tak hanya memberi kepada orang yang yang dicintainya, melainkan kepada orang-orang lain yang juga membutuhkan.

Di bulan Ramadhan juga, sebelumnya umat islam juga telah menunaikan salah satu kewajiban di bulan Ramadhan yakni mengeluarkan zakat fitrah. Zakat fitrah ini menjadi symbol bahwa salah satu faktor yang dapat menjadi tanda kelulusan seseorang di bulan Ramadhan ialah dengan mengorbankan atau mengeluarkan sebagian hartanya untuk diberikan kepada orang yang membutuhkan sebagai wujud kepedulian terhadap sesama.

Selanjutnya, zakat fitrah yang ditunaikan sebelumnya di bulan Ramadhan dapat dipahami sebagai sebuah awal ataupun pancingan bagi seorang muslim untuk terus meningkatkan kepedulian sosial tanpa henti pada bulan-bulan berikutnya setelah Ramadhan berakhir.

Kedua, mampu menahan amarah. Marah merupakan salah satu sifat yang bersifat manusiawi. Akan tetapi, orang yang bertakwa tidak akan mengumbar marahnya begitu saja. Ia mampu menyembunyikan panas didadanya sehingga orang disekitarnya tidak tahu kalau dia sedang marah.

Bisa jadi seseorang marah, akan tetapi ketakwaan yang dimilikinya mampu mencegah dirinya untuk melampiaskan kemarahan tersebut. Ia mengetahui mudarat yang akan ditimbulkan ketika ia meluapkan amarahnya begitu saja.

Sudah sepatutnya, setelah belajar menahan segala hal di bulan Ramadhan. Seorang muslim mampu mengontrol dirinya sebaik mungkin. Mencegah amarah menguasai dirinya dan bersikap biasa saja terhadap orang yang membuatnya marah.

Ketiga, memaafkan kesalah orang lain. Maaf merupakan sesuatu yang singkat namun bisa terasa sangat berat karena persoalan ego, gengsi, dan unsur-unsur nafsu lainnya. Memaafkan bukanlah hal yang mudah, akan tetapi dengan melakukakannya akan menjadikan seseorang memiliki derajat yang tinggi disisinya.

Baca Juga : Hikmah Ibadah Puasa dan Hari Raya Idul Fitri

Beruntunglah bagi seseorang di awal bulan syawal ini yang saling memaafkan kesalahan diantara mereka. Sebab, ada salah satu dosa yang tidak Allah ampuni sebelum seseorang memaafkan kesalahan orang yang telah melukai atau menyakitinya.

Sahabat, sudah berapa kali kita melewati bulan Ramadhan? Sudahkah ciri-ciri sukses Ramadhan tersebut melekat pada diri kita? Semoga kita dapat meraihnya. Aamiin

Leave a Reply