You are currently viewing Tuntunan Itikaf di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Tuntunan Itikaf di Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan

Rahmatanlilalamin.or.id, Tata Cara I’tikaf Ramadhan – I’tikaf merupakan salah satu ibadah yang sangat dianjurkan pada bulan Ramadhan terutama di sepertiga malam. Berdasarkan pengertian yang ada, i’tikaf dapat dipahami sebagai aktivitas berdiam diri dalam mesjid pada waktu tertentu misalkan 1 jam, 2 jam, dan seterusnya dengan melakukan amalan-amalan tertentu untuk mengharap ridha Allah.

Hukum melaksanakan i’tikaf adalah sunnah, sehingga memungkinkan pelaksanaan i’tikaf bisa dilakukan kapan saja. Beberapa amalan yang dapat dilakukan saat i’tikaf terdiri dari salat sunah, membaca Al-Quran, berdzikir, berdoa, atau melakukan hal lain yang dapat mendekatkan kita kepada Allah.

I’tikaf dapat dilakukan setiap saat termasuk dalam waktu-waktu yang diharamkan untuk mendirikan shalat. Hukum asal yang sunnah dalam beri’tikaf dapat menjadi wajib apabila seseorang bernadzar untuk melakukannya.

Pada bulan Ramadhan, umat islam dianjurkan untuk beri’tikaf sejak hari pertama bulan Ramadhan. Anjuran tersebut terdapat dalam firman Allah pada QS. Al Baqarah ayat 187 berikut.

فَٱلْـَٰٔنَ بَٰشِرُوهُنَّ وَٱبْتَغُوا۟ مَا كَتَبَ ٱللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا۟ وَٱشْرَبُوا۟ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ ٱلْخَيْطُ ٱلْأَبْيَضُ مِنَ ٱلْخَيْطِ ٱلْأَسْوَدِ مِنَ ٱلْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا۟ ٱلصِّيَامَ إِلَى ٱلَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَٰشِرُوهُنَّ وَأَنتُمْ عَٰكِفُونَ فِى ٱلْمَسَٰجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ ٱللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ ٱللَّهُ ءَايَٰتِهِۦ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

“Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.”

Pada sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, i’tikaf sangat dianjurkan bagi setiap muslim untuk meraih malam lailatul qadar yang dirahasiakan Allah. Kemudian, sebaik-baik tempat melakukan i’tikaf ialah mesjid, hal tersebut didasarkan pada ayat Al-Quran diatas yang menyebutkan ‘wa antum ‘ākifụna fil-masājid’ yang artinya sedang kamu beri’tikaf dalam mesjid.

Tata Cara I'tikaf Ramadhan
Tata Cara I’tikaf Ramadhan.

Berkaiatan dengan lamanya waktu i’tikaf, para ulama berbeda pendapat mengenai hal ini. Dikutif dari muhammadiyah.or.id Al-Hanafiyah berpendapat bahwa i’tikaf dapat dilaksanakan pada waktu yang sebentar tapi tidak ditentukan batasan lamanya, sedang menurut Al-Malikiah i’tikaf dilaksanakan dalam waktu minimal satu malam satu hari.

Berdasarkan pendapat para ulama, dapat disimpulkan bahwa i’tikaf dapat dilaksankaan dalam beberapa waktu tertentu misal, 1 jam, 2 jam, dan seterusnnya dan boleh juga dilaksanakan dalam waktu sehari semalam.

Syarat-Syarat I’tikaf

I’tikaf merupakan salah satu ibadah sunnah yang dianjurkan untuk dilakukan di mesjid. Adapun syaratnya terdiri dari:

1. Beragama Islam

2. Berakal

3. Tidak sedang memiliki hadats besar

Rukun-rukun I’tikaf

Rukun i’tikaf terdiri dari

1. Niat

2. Berdiam diri di dalam mesjid sekurang-kurangnya selama tumaninah shalat

3. Mesjid

4. Orang yang beri’tikaf

Meraih Malam Lailatul Qadar

Sepertiga terakhir pada bulan Ramadhan merupakan waktu yang penuh dengan kebaikan dan keutamaan serta pahala yang berlimpan. Pada sepertiga terakhir bulan Ramadhan tersebut terdapat malam yang lebih baik dari seribu bulan.

Berdasarkan hal itu, Rasulullah menganjurkan kita untuk bersungguh-sungguh dalam menghidupkan sepeuluh hari terakhir tersebut dengan berbagai amal kebaikan melebihi waktu-waktu lainnya.

Diriwayatkan oleh Imam Muslim, istri beliau, Aisyah RA berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sangat bersungguh-sungguh pada sepuluh hari terakhir dari bulan Ramadhan, melebihi kesungguhan beliau di waktu yang lainnya.” (HR. Muslim)

Selanjutnya, Aisyah RA juga mengatakan, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan), beliau mengencangkan sarungnya (untuk menjauhi para istri beliau dari berjima’, pen), menghidupkan malam-malam tersebut dan membangunkan keluarganya.” (HR. Bukhari & Muslim)

Demikianlah yang Rasulullah lakukan pada bulan Ramadhan, beliau sangat bersungguh-sungguh untuk menghidupkan sepertiga terakhir bulan Ramadhan dengan berbagai amal ibadah untuk meraih lailatul qadar.

Baca Juga: Memaknai Nuzulul Quran dan Lailatul Qadar

Sebagai seorang muslim, tentunya kita harus mencontohi suri tauladan kita yakni Nabi Muhamamad SAW dalam mengisi dan menghidupkan sepertiga malam terakhir di bulan Ramadhan untuk meraih malam lailatul qadar.

Salah satu diantaranya ialah menghidupkan mesjid-mesjid dengan beri’tikaf dan melakukan berbagai amalan lain didalamnya seperti shalat, dzikir, tilawah, serta amalan lainnya.

Leave a Reply